Aneka Resep Masakan

Mi Kopyok Menggugah Selera

Tak ada di antara kami yang ingat kapan kiranya resep Mi Kopyok yang menggugah selera ini terangkul jadi hidangan andalan. Khususnya ketika hari raya Idul Fitri tiba. Yang saya ingat adalah itu terjadi begitu saja dan sudah bertahun-tahun yang lalu. Justru yang saya kenang adalah bagaimana situasi yang mendorong bagaimana kudapan khas Semarang ini muncul ke meja makan dan lama-lama kami seperti paham bahwa kehadirannya seolah menjadi penawar sekaligus penyempurna suka cita kami.

Bapak saya berasal dari Magelang, sementara Ibu saya asli Semarang. Kebetulan atau memang dikatakan sudah jadi nasib, mereka berdua selama ini punya kerja tak jauh-jauh dari dapur. Sebelum berhenti karena terserang kanker, ibu adalah penjual bubur beserta aneka masakan Jawa. Sementara itu puluhan tahun ayah saya jadi koki di restoran Phien Tjian Hiang, salah satu restoran kuno di Semarang yang menyajikan hidangan peranakan. Saya tahu kesohoran rumah makan lawas ini dari tulisan Pak Bondan Winarno, karena pada saat Ibunya meninggal dunia, Pak Bondan menuliskan semacam catatan obituari dan mengulas bahwa dulu pada saat ia masih bocah, ia kerap diajak oleh orang tuanya ngiras makan di restoran ini.

Pertemuan Budaya Cina dan Jawa

Lebaran, sebagaimana kita tahu, selain menjadi festival komunal yang mengikat kita pada kultur kolektif atas nama temali silaturahmi, ia sekaligus parade bagi gastronomi. Pada setiap meja makan di rumah tiap orang di jawa akan kita jumpai hamparan “karpet merah” bagi purwarupa masakan junjungan kita bersama: ketupat, opor ayam kampung, sambal goreng ati-rambak-telur puyuh, kering kentang, serta, jika kita ingin meja tampak lebih glamour, maka kita cukup menaruh sepinggan penuh isi serundeng daging sapi.


Itulah kenapa ketika resep Mi Kopyok menyeruak layaknya cahaya fajar di meja makan keluarga kami, nyaris tak ada dari kami yang menggelengkan kepala sebagai wakil dari sikap penolakan. Sampai berselang tahun kemudian, ketika saya sudah cukup umur untuk mengait-ngaitkan banyak hal yang terjadi di dunia, saya jadi punya simpulan atas sikap kami yang setuju-setuju saja atas kehadiran Mie Kopyok sebagai penyempurna hidangan hari lebaran.

Tebakan saya, sikap penerimaan itu berasal dari anggapan kami bahwa resep Mie Kopyok adalah muara pertemuan dari sejarah kuliner yang digeluti oleh Ibu dan Bapak kami. Ia seolah perpaduan citarasa yang diboyong oleh kerja dapur milik Ibu dan Ayah.

Kekhasan Jawa dan Kekhasan Tionghoa. Citarasa jawanya Mi Kopyok muncul dari lontong dan seledri serta kerupuk gendar, sementara aroma peranakan terembus dari kuah kaldu bawang putih dan bakmi. Jika kita misalkan kedua belah pihak adalah dua kubu yang mesti duduk di meja perundingan, maka saya haqul yakin, yang jadi juru damai tak lain adalah sambal cabe rebus dan kecap manis!

Hal kedua yang menjadi latar belakang penguat kenapa sampai saat ini kami selalu menantikan resep ini keluar di hari raya adalah, keyakinan kami bahwa pada sepanjang dua hari lebaran, lidah dan perut kami akan nonstop digempur oleh menu-menu berat dari opor dan kawan-kawannya. Tentu kami tidak bilang bahwa menu klasik itu perlu disingkirkan, kami hanya berpikir bahwa tidak ada salahnya kami membuat tradisi keluarga kami sendiri untuk membebaskan lidah dan perut kami dari belitan rasa enek karena nonstop mengudap aneka masakan bersantan. Dan voila, ketika itulah Mie Kopyok hadir sebagai penyelamat tepat ketika kami mulai merasa mabuk opor–sambal goreng di hari raya.

Selamat berhari raya lebaran ya.

Bahan-Bahan Membuat Mi Kopyok

Untuk 5-7 porsi

4-5 Batang Lontong/Ketupat
300 gr Mie kuning basah (yang biasa digunakan sebagai pelengkap baso)
10 lembar kerupuk gendar besar
150 gr kecambah tauge
20 biji tahu kopong/tahu Sumedang

Bahan Kuah:
2-3 liter air
20 siung bawang putih (haluskan ulek/cincang halus)
5 butir kemiri
7 sdt garam
4 keping gula jawa
3-4 sdm kaldu ayam/kaldu jamur

Bahan Pelengkap
Seledri (iris tipis)
Cabai rawit setan (rebus/kukus)
Bawang goreng
Kecap manis

Langkah-Langkah

  1. Siapkan kuah lebih dahulu. Lumatkan bawang putih dan kemiri, lantas bagi jadi dua bagian. Separuh untuk kuah, separuh lagi kita gunakan untuk bumbu di piring masing-masing. (Bagian untuk bumbu, kita beri air panas semangkuk dan sisihkan). Jerang air, ketika sudah mendidih masukkan bumbu halus bawang-kemiri, gula jawa, garam, kaldu, kemudian icipi sesuai standar lidah anggota keluarga.
  2. Cong (simmering sebentar) mie kuning bersama dengan tauge, kemudian tata dalam pinggan.
  3. Iris kecil-kecil sesuai selera lontong atau ketupat, tata di samping mie kuning di atas pinggan.
  4. Siram dengan bumbu bawang kemiri secukupnya kira-kira 2 sdm.
  5. Iris dan tata tahu kopong di atas tumpukan mie lontong.
  6. Guyur dengan kuah, kemudian lengkapi sajian dengan irisan seledri, kerupuk gendar yang diremat, bawang goreng. Lelehkan kecap manis agar paripurna.
  1. Jika ada yang suka pedas bisa langsung gerus di pinggir pinggan cabe setannya.

No Comments

Leave a Reply