Aneka Resep Minuman

Sejarah Es Teler Bermula dari Bu Samijem dan Pak Tukiman

Memahami bagaimana sejarah munculnya nama Es Teler jarang sekali dipikirkan orang-orang. Padahal Es Teler begitu familiar dengan keseharian orang-orang yang memiliki kartu penduduk dengan tulisan kewarganegaraan Indonesia. Orang-orang sebatas tahu bahwa es yang satu ini enak sekali diminum ketika kita ingin yang segar-segar.

Namanya memang Teler meski ia sama-sekali tak mengandung alkohol. Jangan bayangkan teler di sini seperti tokoh silat dalam film yang dibintangi Jackie Chan, Drunken Master, di mana si tokoh akan terhuyung-huyung sempoyongan ke kanan dan ke kiri akibat minum berkendi-kendi tuak. Teler di sini menjadi metafora atas tidak sampainya bahasa Indonesia untuk mengekspresikan bahwa citarasa ini enak sekali, luar biasa enak, atau jika ia jadi umpatan akan jadi semisal: sialan, rasanya tingkat dewa yang bersemayam di langit-langit sebuah pagoda!

Kisah Melodramatik Es Teler

Adalah Bu Samijem dan Pak Tukiman, sepasang suami istri dari Sukoharjo yang mengklaim bahwa merekalah yang kali pertama menemukan racikan es teler ini. Ihwal penemuan ini, mereka mengaku bahwa hal itu merupakan sebuah berkah yang jatuh dari ketidaksengajaan. Tentu saja Bu Samijem dan Pak Tukiman girang bukan main meski minus kata “eureka” sebagaimana Archimedes ketika mencebur di bak mandi dan menemukan simpulan bahwa air yang tumpah meluber dari bak ternyatalah sama banyaknya dengan besaran gaya yang menimpa tubuh gempalnya.

Pada sekitaran 1950an, di Nguter, sebuah kecamatan yang masuk wilayah administrasi Sukaharjo, Bu Samijem dan suami memang sudah terampil meracik dan mengolah nangka, nenas, cincau dan pala menjadi minuman pelepas dahaga. Tapi meski sudah bertahun-tahun membuka kedai es di sana, terbersit sekalipun tidak untuk menamai racikan es mereka ini dengan sebutan yang aneh-aneh. Mereka berdua mengikuti saja sebutan orang-orang yang datang ke kedai dan menamai es berisi aneka buah itu dengan nama es campur. Sesimpel itu.

Merantau ke Jakarta

Barulah bertahun-tahun setelahnya, tatkala mereka berdua meniatkan mengadu nasib ke ibukota negara dan membuka kedai di dekat bioskop Megatropole Megaria–Cikini, ketidaksengajaan itu datang dan mengubah nama racikan es mereka. Syahdan seorang pemuda lajang yang notabene mahasiswa Universitas Indonesia datang ke kedainya dan meminta dibuatkan es yang tak biasa di siang yang sumuk itu. Si pemuda mengetuk-ngetuk meja dengan jejari dan berkata pada Bu Samijem jika hari itu cuaca panas mencekik lehernya dan ia begitu ingin menenggak apapun yang sekiranya bisa mengganyang dahaga keparat yang melilitnya.

Bu Samijem baru saja hendak membalik gelas dan menyerok cincau dari stoplesnya ketika si pemuda dengan mantapnya mengajukan usulan yang terdengar di telinga Bu Samijem sebagai perintah: Ini hari aku cuma ingin gelasku diisi dengan potongan nangka, alpukat, degan dan susu, sahaja Bu!

Karena menganggap seruan itu sebuah titah dari pelanggan, maka apa boleh buat, Bu Sarijem mengabulkan apa yang dimaui si pemuda, toh, di mana-mana posisi pelanggan memang jadi si maharaja.

Es datang ke meja si pemuda. Si pemuda segeralah saja menenggak habis es di hadapannya dan yang membuat cerita yang turun-temurun ditularkan dari generasi ke generasi ini menjadi dramatis adalah ucapan si pemuda setelah menyaksikan yang tersisa di dalam gelasnya cuma printilan es batu. Edian, esmu kali ini betulan bikin aku teler, yayu.

Dari peristiwa semacam itulah untuk kemudian, sejak hari itu dan sampai hari ini, es berisi nangka-kelapa muda-alpukat-sirop gula-santan itu mereka patenkan dengan nama Es Teler.

Bahan-Bahan

  • 1 buah kelapa muda
  • 2 buah alpukat
  • 250 gr buah nangka
  • 100 gr sagu mutiara merah
  • 100 gr cincau hijau/hitam
  • 250 gr gula pasir
  • 400 ml santan
  • 1 ruas daun pandan
  • ¼ ekstrak panili
  • 2 bungkus kental manis

Langkah-Langkah

  1. Buat santan: didihkan santan dengan 300-400 ml air dengan api kecil, sembari masukkan daun pandan dan panili. Aduk sampai matang, angkat, dinginkan.
  2. Buat sirup gula: didihkan gula dengan 200 ml air. Angkat, saring, dan tiriskan.
  3. Rebus sagu mutiara sampai matang, angkat dan tiriskan
  4. Kerok kelapa muda seukuran sendok teh
  5. Belah dan sisir daging alpukat kira-kira seukuran sendok teh
  6. Pisahkan daging nangka dari biji, dan potong kecil seukuran ruas jari
  7. Serut memanjang cincau
  8. Siapkan gelas saji, masukkan es batu ke dasar gelas, tapi jika menggunakan es serut, alangkah lebih baik jika es serut ditambahkan di atas bahan-bahan
  9. Susun secara artistik alpukat, daging kelapa muda, nangka, cincau
  10. Guyur dengan sirop gula kemudian santan, atau bisa dibalik, santan dahulu baru kemudian sirop gula
  11. Bersiap-siaplah mabuk.

1 Comment

Leave a Reply