Bapaklopedia

Cara Membedakan antara Margarin dengan Mentega

Membedakan Mentega dan Margarin
Foto iklan Merk Margarin zaman dahulu

Kita memang tidak bisa menyalahkan orang-orang yang tidak tahu bagaimana membedakan antara mana mentega dan mana margarin. Ibu saya sendiri, menunjuk dan menyebut mentega untuk mentega, menyebut mentega lagi padahal yang sedang ia tunjuk ternyata margarin. Ketidaktahuan Ibu saya terkait perbedaan untuk dua produk olahan lemak itu berlangsung selama berpuluh tahun dan itu mau tidak mau terwariskan kepada saya.

Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika awal-awal saya menjadi tenaga paruh waktu di divisi pastry and bakery hotel Santika Premierre Semarang, saya diberi tiket gratis mengikuti seminar pengenalan bahan-bahan dasar cake dan bakery, dan di situlah kepala saya seperti ditempeleng. Bahwa kekeliruan memang bisa saja dimaklumi, tapi mata rantai ketidaktahuan sudah semestinyalah diputus.

Pengetahuan tentang nama, asal muasal bahan beserta fungsi dari bahan-bahan itu nantinya benar-benar membantu saya dalam menentukan akan membuat kudapan atau roti atau kue macam apa dengan penuh kepercayaan diri bahwa material yang saya gunakan sudah tepat. Jarang sekali Ibu saya keliru dalam memahami sesuatu, tapi kali ini beliau, dengan segala hormat, pemahamannya harus saya betulkan.

Jadi, mari meluruskan ini bersama-sama.

Perbedaan dilihat dari Penamaan

Kita runut saja dari penamaan ya. Margarin, dalam bahasa Indonesia adalah bentuk serapan dari kata “margarine” dalam bahasa Inggris. Sementara mentega ialah pengalihbahasaan dari “butter” dari kosakata bahasa Inggris. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa juga pengguna bahasa Indonesia perlu menyerap dua kata tersebut dari bahasa asing? O, itu mudah.

Tarik saja secara kesejarahannya dalam tradisi gastronomi yang sudah berlangsung di nusantara. Bahwa dalam kurun waktu berabad-abad lamanya, orang-orang yang hidup di nusantara ini memang tak pernah besinggungan dengan olahan minyak yang dipadatkan. Jadi bagaimana mungkin kita akan menamai untuk sesuatu yang tidak ada? Mentega dan margarin baru kita kenal ketika orang-orang dari daratan Eropa datang ke pulau-pulau di nusantara. Baik itu dengan niat perniagaan, kegiatan penyebaran agama atau agenda ekspansi wilayah kolonisasi negara-negara mereka. Dengan data kesejarahan semacam itu, manalah mungkin kita punya gambaran imajinasi Raja Hayam Wuruk atau Patih Gajahmada duduk-duduk di depan beranda keraton mereka, mencangkung sesekali menikmati angin kering bulan kemarau sembari mengoleskan margarin di lembaran-lembaran roti tawar yang mereka pegang.

Bahan Penyusun dari Mentega dan Margarin

Runutan selanjutnya ialah terkait bahan dasar penyusun kedua produk tersebut. Margarin terbuat dari olahan lemak tumbuh-tumbuhan. Paling banyak sih biasanya terbuat dari olahan minyak kelapa sawit, meski pada perkembangan selanjutnya, meski jarang, kita juga bisa menemukan margarin yang dibuat dari minyak biji badam, zaitun, atau alpukat misalnya. Hematnya, buah atau biji dari tetumbuhan bisa kita olah ke bentuk margarin dengan prasyarat mereka menghasilkan minyak.

Itulah kenapa margarin berbeda dengan mentega. Sementara dari segi bahan penyusun, margarin dibuat dari lemak nabati, mentega dibuat dari lemak yang berasal dari susu, atau dengan kata lain dari hewan. Umumnya sih dari susu sapi, meski sah-sah saja kalau ada yang membuat mentega dari susu kambing, atau biri-biri, atau bisa saja kuda. Asal jangan sekali-kali merencanakan membuat mentega dari burung onta. Itu akan jadi misi yang berat sekali lantaran mana ada burung onta yang menghasilkan susu. Mari kita bergeser lagi agak jauh, untuk menemukan perbedaan antara margarin dan mentega ditinjau dari segi bentuk dan fisiknya.

Baca juga: Segalanya Tentang Bawang Putih

Beda Bentuk dan Tekstur

Kita akan kesusahan jika membedakannya dari jauh, karena sekilas bentuk dari keduanya nyaris sama. Nyaris ya, catat itu. Sama-sama berwarna dominan kuning, sama-sama terasa padat-padat lembek bikin geli jika disentuh. Jika dari kita ada yang suka dengan atraksi, atau aksi agak-agak teatrikal, kita bisa coba langkah satu ini.

Tutuplah mata kita dengan kain hitam, jumput atau colek dengan jari secara bergantian kedua olahan lemak tersebut. Nikmati dan rasakan sensasi kelembutan masing-masing dari keduanya dengan lidah. Nah, begitu. Jika sudah, amati. Jika ketika kita kecap di lidah lumer, itu mentega. Sebaliknya, jika langit-langit rongga mulut kita terasa ngendal, nggadabel seusai mengecapnya, bisa dipastikan itu adalah margarin. Dan kenapa bisa begitu?

Itu karena margarin, yang berasal dari minyak tetumbuhan, memiliki daya leleh yang lebih tinggi daripada mentega. Garis batas antara kepadatan dan meleleh dari mentega tak bisa lebih dari 30°C. Sementara margarin cuma akan meleleh di atas 50° sampai 70°C. Pergilah sekali-kali ke kafe-kafe yang menyediakan kudapan seperti panekuk atau wafel, maka kau akan mendapati potongan kecil benda yang ditaruh di atas kedua kudapan itu setelah diangkat dari alat panggang. Bongkahan kecil yang ketika datang ke mejamu sudah dalam bentuk kotak kuning yang sebagian sisinya meleleh itulah mentega.

Jadi sekarang, tolong jangan perpanjang ketidaktahuan dan kesalahpemahaman yang kadung mengurat ini ya!

Oiya, Jangan lupa kunjungi kanal Youtube Bapak Memasak untuk menemukan lebih banyak resep-resep pilihan

No Comments

Leave a Reply