Bapaklopedia

Es Puter Conglik dan Cerita-Cerita yang Meruap di Malam Hari

Aku sudah pernah merasai sensasi kenikmatannya, dan sebagaimana orang-orang saleh cuma punya pamrih menularkan sesuatu yang baik, kini aku akan menceritakannya kepadamu.

Pada musim-musim kemarau, jika kau sempat menyambangi Semarang, sepatutnyalah kau mesti cobai es puter. Rasanya yang menyegarkan akan lekas memerdekakan kerongkonganmu sementara waktu dari terik dan hawa cemlekit yang melingkari kota ini.

Ada benarnya juga olok-olok yang dikirim beberapa netizen lewat sebuah meme yang mendramatisasi situasi panas kota ini dengan gambar bahwa ada lampu lalu lintas bundaran Tugu Muda dan itu tepat di antara matahari dan bola bumi.

Meme tersebut seolah hendak memberikan guyonan saintifik tentang sebuah kota di pinggir Pantura yang angin lautnya senantiasa memiuhkan terik matahari ke sela-sela lobang udara rumahmu atau menyisir pori-pori tubuhmu, hingga akhirnya jatuhlah bulir-bulir keringat mengalir dari keningmu saking sumuknya. Terlepas dari hal-hal satir di balik meme tersebut, menurutku hawa panas di Semarang tak sama dengan kota-kota lain yang pernah kusinggahi.

Sebagai sebuah kota, Semarang memiliki bentuk geografis yang agak lain jika dibandingkan dengan Pekalongan–kampung halamanku, misalnya, yang jarak antara perbukitan dan bibir pantainya berjauh-jauhan. Di Semarang, jalan raya Pos-Daendels yang rebah di antara gedung-gedung tua dan bibir pantai di kota ini berjarak tak jauh dari bukit Bergota, Candisari atau Gedong Batu. Bisa jadi, keunikan lanskap itulah yang membuat Semarang menguarkan hawa dingin saat malam tiba.

Tapi meski kubilang dingin, kau jangan mengira hawa ademnya semenggigilkan saat kau berada di pucuk gunung Ungaran atau Gedong Songo atau puncak Bogor. Kiranya “Sejuk” barangkali kata yang tepat ketimbang dingin untuk melukiskan Semarang di malam hari.

Lalu, hal apa yang bisa kita lakukan untuk merayakan kesejukan yang lumayan janggal macam ini? Saranku sih, kau bisa menikmati kesejukan pada malam hari di kota ini sembari menyesap es puter, dan itu bisa dengan mudah kau jumpai di sepanjang jalan Gang Pinggir Pecinan.

Satu dari banyak cara yang bisa kau pilih dalam hidup untuk relaks sejenak, adalah dengan menikmati sesendok demi sesendok es puter dengan menyelonjorkan dengkul. Kau bisa melakukannya sembari membuka jendela dan pintu rumahmu bersama pasangan atau kerabat atau sanak famili yang menurutmu menyenangkan untuk diajak berbagi cerita perihal pasal-pasal kehidupan mungkin, seperti misal mengobrolkan tentang rekan kerja yang cari muka demi gaji yang tak seberapa, dan demi itu ia rela menjegal namamu di depan si bos.

Kali lain mungkin sebuah keluh kesah tentang bagaimana kau dapati perilaku ibu mertua yang ganjil, yang yakin bahwa jam dinding miliknya tidaklah rusak, hanya saja kau menggantungnya pada tempat yang keliru. Di malam-malam sejuk lain kau mungkin bisa membagikan kisah ayah mertua yang nyaris memaksamu bolos kerja jika ia tak melompat melalui jendela karena ulahnya yang setelah menggembok seluruh pintu di malam hari ia merasa telah meletakkan kunci pada tempatnya, padahal ia mengantonginya dan memasukkan celananya ke dalam mesin cuci.

Ada banyak pasal dalam kehidupan ini yang terkadang tak melulu soal haru dan lucu. Sekali waktu bisa saja suami adik iparmu bertandang menengok ibu mertuanya yang juga ibumu dan bolehlah kau ajak mereka mengisi malam di Semarang dengan mengudap es puter Conglik yang ada di Kranggan atau di sekitaran Gang Pinggir. Atau kalau kau ingin suasana yang dekat dengan pusat kota ini, kau bisa mengayun kakimu ke kedai tenda es Puter Conglik di dekat Rs Tlogorejo.

Tak usah khawatir dengan uang gajian awal bulanmu yang mungkin mepet di bawah UMK, karena di ketiga tempat itu kau bisa mengudap es puter dengan kisaran harga Rp. 15.000-25.000 per porsinya. Kenapa kuberikan kisaran harga dalam rentangan dan bukannya harga mati?

O, tentu jawabannya bukan karena tulisan ini ditujukan guna melawan jargon militeristik Indonesia “100% NKRI Harga Mati”. Tapi itu karena es puter Conglik memang bukan es krim yang biasa kau beli mungkin, di warung-warung atau minimarket-minimarket dekat kampungmu. Harga es puter ini tidak bisa diseragamkan karena memang harga yang nantinya kau tebus tergantung dari apa saja varian rasa es beserta pelengkap yang kau pilih.

Ada empat pokok citarasa yang disiapkan oleh penjualnya. Kelapa muda, alpukat, durian, dan cokelat. Dalam tiap porsi nantinya kau akan dipersilakan untuk menentukan apakah akan menaruh pada pinggan kecilmu es cokelat saja, atau es cokelat dengan kelapa muda, kelapa muda dengan alpukat, atau durian dengan cokelat.

Harga segitu memang tak bisa dibilang murah bagi sebagian kaum yang sering mengeluhkan betapa upah bulanan bekerja sudah dihadang lebih dulu untuk bayar kos atau tagihan air pam. Tapi percayalah padaku, kau cuma perlu menahan diri untuk tak membeli rokok satu bungkus atau beli skincare dalam sebulan. Laku prihatinmu tersebut akan terbayar dengan kenikmatan duniawi yang lain, betapa sembari mengaduk-ngaduk siwalan atau sagu mutiara atau potongan alpukat di antara gumpalan es, kau bisa meladeni tiap orang yang menemanimu selonjoran berbagi cerita seputar pasal hidup mungkin, mengobrolkan ulang terkait pekerjaannya sebagai arsitek barangkali, atau tentang bentuk dan fungsi kubah di era imperium Islam sewaktu kejayaan dinasti Abbasiyah, yang ternyata mewarisi tradisi Persia.

Demi bergulirnya sebuah cerita, kau bisa saja mengalirkannya ke arah model bangunan serupa yang mashur di kota ini, akan tetapi memiliki fungsi yang jelas berbeda sebagai tempat peribadatan. Letaknya berada di Kota Lama, menghadap ke arah selatan, dan gereja itu juga memiliki kubah besar dilengkapi dua menara yang menjulang di sisi kanan dan kiri halaman depannya.

Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Gereja Blenduk. Kata blenduk digunakan untuk melukiskan atap gereja yang melengkung seperti setengah lingkaran. Di seberang gereja, terdapat jalan sempit yang membelah di antara bangunan lawas yang sekarang berfungsi sebagai gedung asuransi di sebelah kanannya, sementara di samping kirinya terdapat warung sate dan gulai. Menapaki jalan itu lurus ke arah selatan, tembuslah ke daerah Pecinan, kau nanti akan disambut klenteng Tay Kek Sie yang berdiri di pinggiran Kali Semarang, di Gang Lombok.

Jika berbelok ke Gang Lombok, sebelum klenteng Tay Kek Sie terdapat lumpia yang lamak bana! dan bisa bikin lidahmu tambuah ciek! dibuatnya. Mampirlah, pilihlah lumpia basah yang bisa jadi kudapan pendamping es puter yang nantinya kalian beli.

Tanpa kau sadari, cerita-cerita itu telah turut serta menghidupkan malam-malam di kota ini. Cerita tentang es puter yang sejak tahun 1950an telah ada dan mengalami pergeseran cara berdagang dari tahun ke tahun. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam Sejarah Semarang, es puter pada tahun-tahun lampau itu dijajakan dengan berkeliling kampung menggunakan pikulan ala penjual sate Madura.

Amen Budiman menyebut pikulan itu Angkring, yang memiliki dua bagian belakang dan depan. Pada bagian depan, diisi gelas-gelas berkaki yang menurutnya bentuk gelas semacam itulah yang dipakai orang-orang londo memakan es krim. Para pedagang es puter di tahun-tahun itu berjalan menyusuri malam dari satu lengkong kampung ke lengkong kampung yang lain di kota Semarang sembari membunyikan klinthingan.

Yang belum kupahami betul barangkali justru sejarah es puter Conglik sendiri. Tak ada tulisan-tulisan baku yang bisa dijadikan tonggak patokan. Tak ada catetan etnografi. Tak ada sumber memadai dari pihak tata kota. Tak ada artifak tertulis dari pengamat sejarah terkait muasal bagaimana Es Puter satu ini turut menjadi saksi peradaban atas mengeriputnya wajah urban Semarang. Segala sesuatunya bergulir begitu saja dan pelan-pelan segala desas-desus itu naik tingkat menjadi dongeng.

Pernah memang kudengar cerita, bahwa nama Conglik yang tertera menjadi jenama es puter ini merupakan akronim dari frasa Kacong Cilik. Bagi orang-orang yang bukan dari wilayah-wilayah pesisiran, tentu saja akan kesusahan kurasa memasuki frase kacong (tulis: kacung) cilik ini.

Kata kacung, atau artinya pesuruh, pelayan, kiranya sudah habis riwayatnya ketika orde baru di bawah Suharto mengamanatkan untuk menghapus dan mengganti kata-kata dalam bahasa Indonesia agar kata-kata yang terdengar vulgar haraplah bisa ditukar dengan kata-kata yang lebih halus. Kau masih bisa menemukan warisan itu pada kata karyawan yang merupakan penggantian dari kata buruh. Tuna wisma untuk menggeser kata gelandangan, atau koruptor untuk memperhalus kata maling.

Kawanku yang kelahiran Semarang dan kini usianya nyaris memasuki gerbang empat puluh pernah suatu kali bercerita dengan enteng dan tanpa beban apapun, bahwa semasa ia bocah ia sering diajak ibunya untuk ikut bersih-bersih rumah dan cuci-cuci baju di tempat majikan mereka di sekitaran kali Wotgandul.

Majikan mereka adalah keluarga tionghoa dan ia, kawanku ini, dengan relaksnya bilang kalau di masa-masa itu lumrah sekali orang-orang di kampung Wotgandul kerja sebagai babu di rumah-rumah majikan tionghoa mereka. Ya, b-a-b-u, babu. Jiwaku terkoyak-koyak ketika mendengar kata itu berulangkali melorot dari lidahnya sementara ia pecengas-pecengis saja ketika menceritakan kisahnya padaku.

Kiranya aku perlu memangkas bagian dari ceritanya yang melodramatik di tahun-tahun 80-90 an itu, dan cuma akan mengaitkannya dengan rasa penasaranku pada riwayat Es Puter Congklik yang konon merk dagangnya berasal dari kisah Pak Sukimin yang pada masa pendudukan Jepang pernah menjadi kacung bagi seorang majikan Nippon-nya. Ia masih bocah ketika jadi kacung atau pelayan dan disuruh-suruh buat membelikan sang majikannya es krim. Karena pada masa itu tak ada kedai khusus yang menyediakan es krim maka Sukimin si kacung ini keliling-keliling buat mencari penjual pikul es puter.

Dari situlah ia lantas akrab dengan beberapa pedagang keliling es puter dari Pekalongan. (Sialan, bahkan aku baru tahu soal ini, padahal aku lahir di Pekalongan. Apakah sebelum tersohor jadi kota pemasok saudagar batik, orang-orang Pekalongan punya bakat alami sebagai penjual es Puter, sebagaimana orang-orang Tasik ahli membuat kerupuk?)

Dua keterangan tak tertulis itu membuatku berhasrat untuk membuat sebuah riwayat sempalan. Bahwa memang pada masa lalu, orang-orang di Semarang sebenarnya akrab dengan istilah kacung dan babu. Kacung mungkin dilekatkan untuk pelayan laki-laki, sementara babu digunakan untuk menunjuk pelayan perempuan. Yang masih menjadi ganjalan dalam pikiranku kini ialah, kemana gerangan orang-orang, keturunan nenek moyangku, yang dikisahkan bahwa mereka banyak yang mengadu nasib sebagai penjaja keliling es puter itu menyebar?

Suara klintingan itu kini sudah tak terdengar lagi. Tenggelam di antara bunyi klakson-klakson mobil dan truk-truk trailer jalur pantura, tertekan oleh bunyi mikrofon wireless di tempat-tempat karaoke, terpilin-pilin nada panggilan aplikasi di telepon-telepon androidmu. Tapi hal itu tak menandakan kepunahan es puter, bahkan ia masih tetap ada di tengah kepungan banyaknya minuman postmo yang kian menjamur seperti es Boba, es kepal Milo, juga es Cappucino campur Cincau, serta adapula bentuk paling banal dari penyajian es grim yang tentu saja es krim dengan wadah pot.

Kau tentu boleh memilih, apakah akan mengudap es puter atau meneguk aneka rupa es yang tersebut di atas. Jika kau memilih yang kedua untuk melepas dahaga, hanya sebatas penawar rasa haus yang bakal kau dapatkan. Tapi barang siapa memilih es puter, niscaya ia tak melewatkan cerita-cerita yang turut menghidupi kota ini [.]

Penulis: Ahsanul Mahdzi
Penyunting: Arif Fitra Kurniawan

2 Comments

  • Reply
    Jonathan & Acid
    24/01/2022 at 01:01

    Waduh jadi pengen main ke Semarang & nyobain Es Puter Congklik. Btw, tulisannya bagus. Semangat buat review jajanan-jajanan lainnya yah!

    • Reply
      bapak memasak
      03/02/2022 at 05:34

      Wah terima kasih sudah menikmati sajian tulisan ini, Kapan-kapan bolehlah coba ke kedai Es Puter Conglik, tapi jangan lupa bawa kawan atau sanak saudara biar seru. Menikmati es Conglik pantang sendirian.

    Leave a Reply