Bapaklopedia

Rujak Juhi; Jauh di Mata Jauh di Hati

Orang-orang akan segera dengan mudahnya mengaitkan Jakarta atau lebih khususnya betawi dengan ondel-ondel atau lenong atau si Pitung, tapi tidak dengan Rujak Juhi. Kudapan satu ini memang sepertinya hadir tidak untuk menjadi maskot atau tetenger sebuah tempat. Bahkan jika mau diadu dengan aneka kudapan lain, semisal Semur Jengkol atau Gado-Gado, kedudukan Rujak Juhi jelaslah kalah telak. Belum juga naik ring, si Rujak sudah babak belur kena hantam sejarahnya sendiri.

Aku tak mengenal kudapan ini, sampai datang masa di mana aku memiliki kesempatan merantau dan kerja pada sebuah pabrik pembuatan kecap-saos-sirup di Bekasi. Predikat sebagai buruh dengan jam kerja panjang serta mesti tidur di mes menjadikanku tak punya kesempatan memasak dan ini menciptakan adat khas perantauan; jajan.

Tapi di Bekasi, atau lebih tepatnya kecamatan Bantar Gebang, alangkah susahnya mengimajinasikan makanan-makanan yang ada dan dijual sesuai dengan lidah Semaranganku. Berkeliling-keliling ke sudut-sudut kota dengan jumlah pabrik lebih banyak ketimbang jumlah toilet umum serta bau sampah yang menguar pekat di udara ini paling banter aku ketemu dengan warung-warung makan Tegal, berseling rumah makan Padang atau sesekali rumah makan masakan Sunda. Kiranya aku mesti sujud syukur, karena Tuhan menciptakan sebagian orang-orang Klaten dan Wonogiri dengan tangan terampil mereka, hingga, berkat gelombang pasang urbanisasi, nyaris di tiap kota selalu mampu menyediakan stok penjual bakso dan mi ayam yang berlimpah, karena bagiku, cita rasa dua jajanan ini mampu mengamankan lidahku dari kejenuhan makan masakan warung Tegal yang itu-itu melulu; kering tempe–oseng buncis–sambal goreng tahu–balado kentang, yang betapa aduhai ngapak-nya!

Perjumpaanku dengan Rujak Juhi berawal dari sebuah kesembronoan. Aku asal saja dengan lantangnya memanggil-manggil Abang-Abang yang menyorong gerobak ketika sore itu ia melintas di depan mesku. Sementara aku baru saja ikut kawan-kawanku bermain bola voli dan kupikir, tak ada yang keliru jika aku jajan rujak agar badanku lekas segar dan trengginas jika sehabis olahraga mengudap buah-buahan bersiramkan sambal gula asam.

Aku sudah bisa mengendus harapanku bakal bengkok sejak tangan si Abang menyeset pinggan dari deretan dan mencomot mi kuning dari bekas kaleng biskuit Khong Guan yang dipangkas separuh itu bahkan sebelum aku sempat merajuk agar nantinya irisan bengkuangku diganti saja dengan mangga muda seandainya ia sudi.

Tangan si Abang terus saja mengambil aneka racikan dari wadah-wadahnya yang dijejer rapi tanpa banyak omong dan aku juga tidak punya minat untuk menyelanya dengan protes atau pertanyaan. Sekali saja ia menanyaiku, sesaat sebelum pinggan ia sodorkan kepadaku.

“Lu mau pedesnya pegimane, Tong?”

Sampai saat artikel ini aku tulis, dan itu artinya percakapan sepihak antara aku dan si Abang Rujak Juhi sudah tercetak dalam ingatan selama nyaris 18 tahun, aku masih susah menentukan siapakah yang salah di atara kami berdua. Barangkali ini semacam konflik bahasa saja. Bahwa kata “Rujak” dalam konvensi kepalaku adalah aneka buah-buahan yang dicampur dalam sebuah wadah, sementara si Abang punya konvensi dan pemahaman lain terkait itu.

Satu hal yang kucatat dari peristiwa itu, dan tentu saja aku menaruh hormat atasnya, adalah cakrawala pengetahuanku terkait khazanah Perujakan yang meluas. Aku tak akan mengeyel bahwa racikan semacam Rujak Juhi ini kalau dibuat di Semarang akan dinamai pecel, karena alih-alih berbumbu gula jawa, ia bersiramkan sambal kacang dan isiannya justru sayuran. Sama nantinya ketika pada suatu kesempatan di lain hari aku menemukan di meja panjang prasmanan pernikahan kawan yang menyediakan menu Rujak Cingur, kiranya mulutku sudah terlakban dengan baik untuk tidak lagi cerigis.

Setelah sore penuh keringat itu aku tak lagi ketemu si Abang. Mungkin ia mempunyai rute keliling lain dan tidak melewati kampung tempatku tinggal, atau bisa jadi ia banting setir jadi penadah besi rongsok atau malah jadi pengusaha mebel, tak bisa kureka-reka nasibnya. Aku mudik ke Semarang tiga tahun kemudian dengan tetap menyimpan angan-angan kapan kiranya aku bisa mencicipi lagi rujak aneh itu.

Adalah buku karangan Dian Anditya Mutiara, yang kubeli di kios buku loak seharga cemban turut melengkapi bagaimana harapanku yang bengkok seperti menemukan titik patahnya. Dalam buku itu Dian lumayan banyak berkisah bahwa sejatinya Rujak Juhi memang makin hari makin kehilangan penggemarnya. Di Jakarta sendiri, orang-orang akan kesusahan menemukan penjual Rujak Juhi, baik yang membuka warung ataupun yang berkeliling dari kampung ke kampung.

Ia beruntung karena masih bisa menemu dan sekaligus mencatat warung Rujak Juhi milik Haji Misbach di Petojo. Letaknya yang nyelempit dan berada di sebuah gang buntu membuatnya acap tak dikenali sebagai sebuah warung. Tempat berjualan itu kiranya jadi warung yang masih bertahan menyajikan Rujak Juhi dengan Pak Misbach yang merupakan penggenggam tongkat estafet generasi ketiga. Kepada Dian ketika diwawancarai, Pak Misbach mengeluhkan bahwa usianya makin uzur dan sampai waktu-waktu itu ia belum juga menemukan tanda-tanda ada keturunannya yang mau diwarisi guna melanjutkan usaha berjualan Rujak Juhi.

Pak Misbach mengaku mendapatkan resep otentik secara turun-temurun dari mertuanya, Pak Muhayar. Sementara Pak Muhayar adalah putra Haji Nanam almarhum, legenda kampung Petojo yang kali pertama megenalkan kudapan ini hingga rujak ini menjadi tidak asing bagi orang-orang Betawi. Konon, Haji Nanam pada mulanya ikut bantu-bantu pada seorang Cina Totok yang berjualan kudapan ini dengan cara berkeliling. Memang awalnya juragan Tionghoanya tersebut mengkhususkan diri cuma meladeni orang-orang tionghoa yang bermukim di pecinan. Namun selang waktu berlalu, Haji Nanam punya pikiran revolusioner bahwa tiap orang, tidak cuma orang-orang peranakan tionghoa yang berhak mengudap sajian sesedap ini, dan ia melakukannya sungguh-sungguh. Akhirnya rujak juhi menyebar juga di kampung-kampung betawi.

Kala itu sebenarnya ia tak begitu tertarik dengan rupa-rupa usaha jualan makanan. Jika saja pekerjaan tetapnya sebagai pegawai pengerjaaan kabel telepon tidak oleng, ia tak akan meneruskan apa yang sudah dibangun oleh mertuanya tersebut. Pada akhirnya, ia sadar betul bahwa tangannya sudah digariskan untuk menggiling sotong dan mengeringkannya menjadi lembaran juhi sebelum nantinya jadi pelengkap tangkupan mi di atas pinggan.

“Rumitnya di proses penggilingan. Kita harus melakukan berkali-kali. Tidak boleh terlalu matang dan tidak boleh terlalu mentah. Sebab, kalau gagal, kita cuma bisa dapat lembaran juhi yang pendek, ” terang Pak Misbach terkait bagaimana membuat juhi dengan hasil yang optimum.

Tapi sayangnya sekali lagi, proses yang baik menelurkan hasil yang baik cuma ada di buklet-buklet souvenir jika kita hadir dalam seminar motivasi. Segala imbal balik kebaikan tak berpihak pada Rujak Juhi. Ia tetap jadi sesuatu yang asing dan terpinggirkan, yang barangkali dua atau tujuh tahun lagi benar-benar akan, menukil maestro persajakan kita Chairil Anwar, …tinggal tulang diliputi debu.

Jadi apa bedanya ada di Karawang atau Bekasi, Bung dan Nona?

1 Comment

Leave a Reply