Bapaklopedia/ Para Juru Masak

Takdir Dapur Massimo Bottura

Massimo bottura yang begitu menghormati para juru masak mencintai pekerjaan
Gambar sosok Massimo Bottura yang digubah menggunakan alat gambar kecerdasan buatan

Jalan hidup berkelok-kelok, tapi takdir menggeret seorang Massimo Bottura ke dapur. Ia mencintai dapur, sebagaimana ia mencintai puisi dan khidmat mendengarkan nada sengau yang keluar dari tenggorokan Bob Dylan atau Billie Holiday. Saking cintanya pada dunia gastronomi, Massimo pernah menjalani masa-masa suram dengan keluarganya. Nyaris dua tahun ayah Massimo emoh bicara dengan dirinya. Itu menyakitkan, saudara.

Massimo lahir pada 30 September 1962 di Modena. Ibunya seorang profesor sementara ayahnya adalah seorang pengusaha. Terlahir dari keluarga yang secara finansial oke, Massimo dituntut untuk sekolah setinggi-tingginya. Ayah Massimo yang kolot berharap puteranya bisa jadi seorang ahli hukum. Dan di situlah titik persoalannya berkecambah. Massimo muda enggan menuruti apa yang diangankan sang ayah. Ia lebih menuruti hasrat purbanya untuk menjadi seorang juru masak. Jelas dong, agenda makar anaknya ini membuat sang ayah marah besar. Lalu “perang dingin” keduanyapun bergulir sepanjang nyaris dua tahun.

Kebekuan itu terus berlanjut dengan kebulatan tekad Massimo yang semakin membesar untuk menekuni dunia masak-memasak. Sang ibu turun tangan akhirnya, dengan menepuk pundak puteranya, seolah ia hendak bilang: Ikuti saja kata hatimu, Nak! Bapakmu biar aku yang urus.

Karier Massimo Bottura

Salah satu sosok yang dihormati oleh Chef Massimo Bottura adalah neneknya, yang telah memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya dan inspirasi dalam bidang kuliner. Dari dia, Bottura belajar tentang pentingnya tradisi kuliner Italia dan warisan budaya yang terkandung dalam setiap resep masakan. Berbekal penghormatan kepada neneknya, Bottura menciptakan kembali hidangan-hidangan klasik dengan sentuhan modern dengan tetap menghormati warisan kuliner Italia. Bottura akan selalu terkenang pada hari-hari menjelang perayaan Natal. Pada momen itulah dia akan duduk meringkuk di bawah meja dapur, menyaksikan nenekda, ibu, dan bibinya menyiapkan beragam masakan khas Italia.

Nostalgia tersebut ia bawa bahkan sampai Massimo berhasil menggotong kariernya sebagai juru masak ke titik tertinggi. Ia dinobatkan sebagai juru masak terbaik di dunia dan restoran Osteria Francescana yang ia dirikan berulangkali mendapatkan bintang michelin. Tapi segala sesuatu tidak pernah instan, bukan?

Massimo Bottura memulai kariernya di dunia kuliner di Trattoria del Campazzo, sebuah restoran kecil yang terletak di luar Modena, Italia. Di sana, dia memperoleh pengalaman berharga yang membantunya membangun dasar-dasar dalam seni memasak. Ia mendapatkan gemblengan awal dari seorang rezdora (dalam bahasa Italia artinya nenek–pen) Lidia Crustoni. Dari Lidia-lah Massimo mendapatkan pondasi keahlian memasak sajian Italia, terkhususnya hidangan Emilia-Romagna.

Waktu membuat segalanya tampak rumit, dan Massimo makin matang. Nama-nama besar dalam dunia perdapuran hadir dalam jalan hidup Massimo dan membuat keahliannya semakin sempurna. Sempat beberapa waktu magang dan dimentori oleh legenda dapur Alain Ducase, Massimo menganggap hal itu adalah sebuah nasib baik. Dari Ducasse ia benar-benar belajar bagaimana teknik memasak hidangan Prancis semestinya dikerjakan. Ia juga banyak menimba ilmu dan berbagi teknik dengan deretan juru masak andal seperti Georges Coigny dan Ferran Adrià.

Memasak adalah Seni

Massimo selalu yakin, bahwa masak-memasak adalah bagian dari seni. Sebagaimana ia menghormati sajak-sajak yang ditulis para penyair, atau lukisan-lukisan bikinan para mestro. Semangat seni itulah yang kerap ia ejawantahkan dalam setiap menu-menu yang ia hidangkan. Massimo Bottura telah menciptakan berbagai hidangan inovatif yang telah mengukir namanya di dunia kuliner. Beberapa contoh hidangan yang terkenal termasuk “Oops! I Dropped the Lemon Tart,” yang merupakan interpretasi kembali dari tart lemon klasik dengan sentuhan kreatif, serta “The Crunchy Part of the Lasagna,” yang mengangkat elemen klasik dari lasagna dalam presentasi yang unik.

Para kritikus makanan seantero jagat memandang keahlian Massimo Bottura dalam mengolah bahan baku sebagai sebuah revolusi. Bottura dianggap pembaharu, yang tak takut mendobrak nilai-nilai konservatif sebuah langgam kebudayaan memasak. Hidangan-hidangan yang ia sajikan selalu punya ambisi untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya bisa terus kita maknai ulang. Termasuk resep masakan. che bello [.]

1 Comment

Leave a Reply